PENGGUNAAN MODEL PEMBELAJARAN TUTOR SEBAYA UNTUK MENINGKATKAN KEMAMPUAN MEMBACA AL-QURAN

PROPOSAL
PENELITIAN TINDAKAN KELAS


PENGGUNAAN MODEL PEMBELAJARAN TUTOR SEBAYA
UNTUK MENINGKATKAN KEMAMPUAN MEMBACA AL QURAN


Amad Sofan, A. Ma.

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah
Pendidikan Agama Islam (PAI) di sekolah dasar merupakan pendidikan yang sangat penting sebagai peletak dasar aklak dan moral siswa. Pemahaman tentang berbagai dasar ilmu agama diberikan sebagai dasar bekal hidup siswa nantinya. Memang tidak hanya di sekolah saja pendidikan agama diberikan, madrasah atau pondok pesantren, masyarakat, dan orang tua juga membekali anak dengan berbagai ilmu agama. Akan tetapi sekolah sebagai tempat belajar formal siswa juga memiliki tanggug jawab yang besar untuk membekali siswa dengan ilmu agama sebagai pegangan hidup siswa. Mengingat pentingnya pendidikan agama islam bagi siswa Direktorat Jendral Pendidikan Agama Islam mengeluarkan kebijakan umum yaitu peningkatan mutu khusus mengenai pendidikan agama Islam di sekolah, peningkatan mutu itu sendiri terkait dengan bagaimana kualitas hasil pembelajaran pendidikan agama Islam pada peserta didik yang mengikuti pendidikan di sekolah.
Hujair (dalam Raharjo 2010: 6) mengemukakan bahwa PAI harus dapat mengantarkan peserta didik ke penguasaan kompetensi dasar tentang agama islam yang terintegrasi dalam ranah kognitif, afektif, dan psikomotorik. Dengan penguasaan tersebut peserta didik akan memiliki pemahaman, pengetahuan, dan keterampilan tentang agama islam sehingga mampu menganalisa dan memecahkan problem kehidupan yang dihadapi dalam rangka membangun harmoni kehidupan.
Pendidikan agama islam adalah pelajaran yang sangat kompleks yang memiliki tujuan akhir yaitu siswa dapat memahami ilmu agama dan moral yang baik. Tidak dapat dipungkiri bahwa pembelajaran pendidikan agama islam di sekolah dasar masih kurang maksimal. Ada beberapa kendala yang mempengaruhi kurang maksimalnya pembelajaran tersebut yang salah satu diantaranya adalah kurangnya alokasi waktu yang diberikan untuk mata pelajaran ini. Bisa dibayangkan bagaimana dengan waktu yang hanya 2 jam pelajaran, guru pendidikan agama islam harus dapat mengajarkan ilmu agama, membaca Al-Quran, akhlak, dan penanaman moral pada siswa. Tentu tidak semua siswa memiliki bekal yang sama dalam dasar-dasar agama islam, ada yang sudah baik karena hidup dilingkungan yang mendukung, adapula yang kurang baik atau bahkan samasekali kurang karena memang tidak adanya dukungan akan hal tersebut di lingkunganya. Oleh karena itu berbagai strategi, pendekatan, dan model pembelajaran harus selalu dikembangkan oleh pengajar.
Pembelajaran membaca surat-surat pendek Al-Quran seperti surat Al-Fatihah dan al-ikhlas merupakan salah satu kompetensi dasar yang diajarkan di kelas IV. Setelah mengikuti pembelajaran ini siswa diharapkan dapat membaca surat surat tersebut dengan benar. Mengingat pentingnya surat-surat pendek tersebut misalnya sebagai bacaan shalat yang harus dikerjakan siswa setiap hari, siswa selain dapat membaca dengan benar juga harus dapat mengahafal surat tersebut dengan benar. Namun demikian, dalam pembelajaran kompetensi dasar ini seringkali terjadi kekurangmaksimalan hasil yaitu siswa kesulitan dalam membaca dengan benar dan yang lebih banyak menghafal. Memang tidak semua siswa mengalami kesulitan, siswa yang sudah terbiasa dengan kehidupan agamis atau belajar mengaji di rumah tidak akan kesulitan dengan kompetensi dasar ini. namun bagi siswa yang di lingkungan atau keluarga kurang atau tidak pernah dalam belajar Al-Quran kompetensi dasar ini akan sulit untuk tercapai.
Untuk dapat mencapai kompetensi dasar tersebut pembelajaran yang dilakukan harus lebih baik dan bermutu agar sasaran semua siswa mampu membaca dan menghafal surat-surat pendek dapat tercapai. Salah satu cara untuk meningkatkan mutu pembelajaran agar kompetensi dasar tersebut dapat tercapai adalah dengan menerapkan model pembelajaran yang lebih efektif dan tidak membosankan. Salah satu model pembelajaran yang dapat digunakan adalah model tutor sebaya. Dengan model tutor sebaya siswa diajak untuk menjadi tutor atau sumber belajar dan tempat bertanya bagi teman-temannya.

B. RUMUSAN MASALAH

a. Bagaimanakah pengembangan dan langkah-langkah pembelajaran tutor sebaya agar dapat meningkatkan kemampuan siswa kelas IV SD Negeri 2 Pesuningan dalam membaca dan menghafal surat-surat pendek Al-Quran?
b. Apakah pemanfaatan pembelajaran tutor sebaya dapat meningkatkan kemampuan siswa dalam membaca dan menghafal surat-surat pendek Al-Quran?

C. TUJUAN PENELITIAN
Tujuan penelitian ini adalah:
a. Untuk mengetahui keefektifan penggunaan model pembelajaran tutor sebaya dalam meningkatkan kemampuan siswa dalam membaca dan menghafal surat-surat pendek Al-Quran.
b. Untuk mengidentifikasi langkah-langkah yang perlu dilakukan dalam penerapan model pembelajaran tutor sebaya pada pembelajaran membaca dan menghafal surat pendek Al-Quran.

D. MANFAAT PENELITIAN
Penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat sebagai berikut:
a. bagi guru
Guru dapat mengetahui dan melaksanakan model pembelajaran yang bervariasi dan efektif seperti model tutor sebaya untuk memperbaiki dan meningkatkan sistem dan mutu pembelajaran.
b. bagi siswa
Hasil penelitian ini sangat bermanfaat bagi siswa yang mengalami kesulitan dalam belajar membaca dan menghafal Al-Quran khususnya surat-surat pendek. Penelitian ini juga bermanfaat untuk melatih siswa belajar secara mandiri bersama teman-temannya.
c. Bagi sekolah
Hasil penelitian ini akan sangat membantu bagi peningkatan kualitas pembelajaran yang berlangsung di sekolah.



BAB II
KAJIAN PUSTAKA


A. MODEL PEMBELAJARAN TUTOR SEBAYA
Pembelajaran dapat diartikan sebagai kegiatan yang dirancang untuk membantu seseorang mempelajari suatu kemampuan dan nilai baru (Sagala 2008). Untuk mencapai pembelajaran yang baik pembelajaran memerlukan strategi, perencanaan, media, sumber, dan model pembelajaran yang variatif dan sesuai dengan materi yang di ajarkan.
Model pembelajaran merupakan pola yang digunakan sebagai pedoman dalam merencanakan pembelajaran di kelas ataupun tutorial. Model Tutor sebaya dikenal dengan pembelajaran teman sebaya atau antar peserta didik, hal ini bisa terjadi ketika peserta didik yang lebih mampu menyelesaikan pekerjaannya sendiri dan kemudian membantu peserta didik lain yang kurang mampu. Tutor Sebaya merupakan salah satu strategi pembelajaran untuk membantu memenuhi kebutuhan peserta didik. Ini merupakan pendekatan kooperatif bukan kompetitif. Rasa saling menghargai dan mengerti dibina di antara peserta didik yang bekerja bersama. Model ini paling efektif diterapkan dengan model belajar kelompok yang mana tiap kelompoknya beranggotakan siswa yang memiliki kemampuan yang berbeda-beda dengan siswa yang paling pandai atau memiliki pemahaman paling tinggi tiap kelompoknya dijadikan sebagai tutor atau pembimbing bagi teman-temannya.
Tutor Sebaya akan merasa bangga atas perannya dan juga belajar dari pengalamannya. Hal ini membantu memperkuat apa yang telah dipelajari dan diperolehnya atas tanggung jawab yang dibebankan kepadanya. Ketika mereka belajar dengan “Tutor Sebaya”, peserta didik juga mengembangkan kemampuan yang lebih baik untuk mendengarkan, berkonsentrasi, dan memahami apa yang dipelajari dengan cara yang bermakna. Penjelasan Tutor Sebaya kepada temannya lebih memungkinkan untuk mudah dipahami karena memiliki pola piker yang masih relative sama dan bahasa yang lebih akrab.
Pemilihan tutor merupakan langkah pertama yang harus diperhatikan oleh guru atau pengajar. Ada beberapa kriteria yang seharusnya dimiliki oleh seorang tutor dalam pemblajaran tutor sebaya ini yaitu:
1) Memiliki hubungan emosional yang baik, bersahabat dan menunjang situasi tutorial
2) Diterima dan disetujui oleh siswa lain
3) Menguasai bahan atau materi
4) Memiliki kemampuan menyampaikan informasi atau berkomunikasi dengan baik
5) Memiliki kreativitas untuk membimbing atau member bantuan

Setiap model pembelajaran memiliki kelebihan dan kekurangan, begitu juga dengan model pembelajaran tutor sebaya. Kelebihan penggunaan model tutor sebaya yaitu : (1) hasil yang cukup baik bagi siswa yang memiliki rasa takut pada guru, (2) bagi tutor dapat memperkuat konsep yang diampunya, (3)kesempatan bagi tutor untuk melatih diri dan bertanggungjawab, (4)mempererat hubungan antar siswa, (5) mengatasi hambatan bahasa. Selain kelebihan di atas model tutor sebaya ini juga memiliki kekurangan dalam penerapanya yaitu: (1) siswa yang dibantu kadang kurang serius, (2) siswa malu bertanya pada tutornya karena malu memperlihatkan kelemahannya, (3) pekerjaan tutoring sering terkendala bias gender, dan (5) tidak semua siswa pandai dan mampu menjelaskan pada temannya.

B. MODEL PEMBELAJARAN TUTOR SEBAYA DALAM PEMBELAJARAN MEMBACA AL-QURAN
Model pembelajaran tutor sebaya dalam pembelajaran membaca sering digunakan untuk membantu pembaca yang lambat atau kurang pandai dalam membaca huruf Hijaiyah. Tutor sebaya juga memberikan ruang dan waktu lebih dalam membimbing siswa yang masih memiliki hambatan dalam membaca. Hal ini karena tutor memiliki hubungan yang lebih dekat karena mereka adalah teman sebayanya dan juga memiliki waktu yang banyak untuk membimbing yaitu bisa dilakukan di sekolah ataupun di rumah saat belajar.
Manfaat tutor sebaya dalam melatih membaca yaitu:
1) Merupakan cara praktis untuk membantu secara individu dalam membaca
2) Memberikan pelatihan lebih intens tanpa terkendala hubungan formal antara guru dan murid
3) Waktu yang digunakan untuk berlatih membaca meningkat atau lebih banyak

Kegiatan pembelajaran tutor sebaya yang merupakan kegiatan belajar kelompok terkadang dapat menjadi kegiatan belajar yang kurang produktif dengan berbagai persoalan seperti siswa yang bingung dengan apa yang harus dilakukan, siswa yang kurang bisa menata diri untuk mengikuti pembelajaran, dan mudah teralihkan konsentrasinya oleh hal-hal lain. Untuk dapat memaksimalkan kegiatan belajar kelompok ada beberapa hal yang perlu ditempuh yaitu: (1) memberi tugas kepada setiap anggota kelompok, (2) menetapkan aturan dasar kelompok, (3) memberi contoh atau mempraktikkan keterampilan berkelompok (Silberman 2004).



BAB III
METODE PENELITIAN

Metode penelitian yang digunakan adalah penelitian tindakan kelas (Classroom Action Research), yang bertujuan untuk memecahkan masalah-masalah melalui penerapan langsung di kelas atau tempat kerja (Isaac, 1994:27). Sedangkan menurut Prof. Suhardjono (2006:56) mengatakan bahwa penelitian tindakan kelas merupakan bagian dari penelitian tindakan yang dapat dipandang sebagai tindak lanjut dari penelitian deskriftif maupun eksperimen.
Penelitian ini dilakukan dalam 2 siklus, yaitu siklus 1 dan siklus 2. Pembelajaran siklus 2 merupakan perbaikan terhadap pembelajaran siklus 1 yang sudah dilakukan.

1. Setting Penelitian:
a. Lokasi Penelitian : SD Negeri 2 Pesuningan
b. Subjek Penelitian : Siswa kelas IV SD Negeri 2 Pesuningan
2. Tindakan / Langkah-Langkah Pembelajaran
Tindakan yang dilakukan pada penelitian ini adalah:
a. Menyusun rencana pelaksanaan pembelajaran dan strategi pembelajaran yang lebih efektif untuk menerapkan model pembelajaran tutor sebaya.
b. Mengelompokkan siswa sesuai kemampuannya dalam membaca dan menghafal Al-Quran.
c. Membuat kelompok belajar siswa dengan pembagian secara merata antara siswa yang pandai, kurang pandai, dan belum bisa dalam membaca dan menghafal Al-Quran surat pendek.
d. Menjelaskan kepada calon tutor hal-hal yang harus mereka lakukan/ tugas tutor dalam kegiatan tutorial selama pembelajaran dan belajar mandiri di luar jam sekolah
e. Menjelaskan program belajar yang harus dikerjakan oleh tiap kelompok yaitu membuat semua anggota kelompok dapat membaca dan menghafal Al-Quran surat pendek.
f. Mengevaluasi perkembangan belajar siswa secara berkala sampai tujuan pembelajaran dapat tercapai.
g. Menyusun rencana pelaksanaan pembelajaran untuk pembelajaran siklus 2 dengan merperbaiki kekurangan-kekurangan yang terjadi pada siklus 1.


Daftar Pustaka

................




Ditulis Oleh : Saefu Zaman Hari: 17.53 Kategori:

0 comments: