KALIMAT TUNGGAL DAN KALIMAT MAJEMUK


Pembeda antara kalimat tunggal dan kalimat majemuk adalah jumlah klausa yang ada di dalam kalimat. Sebuah kalimat dikatakan kalimat tunggal jika dalam kalimat tersebut hanya terdapat sebuah klausa. Sedangkan yang dimaksud dengan kalimat majemuk yaitu kalimat yang terdiri atas lebih dari satu klausa.
Contoh kalimat tunggal
• Ibu memasak nasi
• Kami menonton film horor

Kalimat mejemuk jika dilihat dari sifat hubungan antar klausa di dalam kalimat dibedakan menjadi beberapa jenis, yaitu kalimat majemuk koordinatif (kalimat majemuk setara), kalimat majemuk subordinatif (kalimat majemuk bertingkat), dan kalimat majemuk kompleks.

A. Kalimat Majemuk Koordinatif (kalimat majemuk setara)
Kalimat majemuk koordinatif adalah kalimat majemuk yang klausa-klausanya memiliki status yang sama, yang setara, atau yang sederajat. Sebagai penghubung antar klausa dalam kalimat majemuk koordinatif digunakan konjungsi koordinatif, yaitu dan, atau, tetapi, dan lalu. Namun demikian tidak menutup kemungkinan konjungsi dalam kalimat jenis ini tidak digunakan.
Contoh : Dia datang dan duduk di sebelah saya.
Saya sudah makan banyak, tetapi masih saja lapar.
Saya duduk, ayah berdiri, dan adik berlari-lari.
Dia datang, lalu menyuruh kami makan.

Ada tiga macam hubungan semantis dalam kalimat majemuk setara.

1. Hubungan 'penjumlahan'
Hubungan yang menyatakan penjumlahan atau gabungan kegiatan, keadaan, peristiwa, atau proses. Hubungan penjumlahan ini ditandai dengan kata penghubung dan, serta, baik. . . maupun.
Contoh:
Ia baik hati dan suka menolong teman yang mengalami kesusahan.

2. Hubungan 'perlawanan'
Hubungan yang menyatakan bahwa yang dinyatakan dalam klausa pertama berlawanan dengan yang dinyatakan dalam klausa kedua. Klausa pertama berlawanan atau tidak sama dengan yang dinyatakan dalam klausa kedua. Hubungan perlawanan ini ditandai kata penghubung tetapi, melainkan.
• Adikku belum bersekolah, tetapi dia sudah pandai membaca.

3. Hubungan 'pemilihan'
Hubungan yang menyatakan pilihan di antara dua kemungkinan atau lebih yang dinyatakan oleh klausa-klausa yang dihubungkan. Hubungan pemilihan ini ditandai kata penghubung atau.
• Aku yang datang ke rumahmu atau kamu yang datang ke rumahku?

B. Kalimat Majemuk Subordinatif (kalimat majemuk bertingkat)
Kalimat majemuk subordinatif yaitu kalimat majemuk yang hubungan antara klausa-klausanya tidak setara atau tidak sederajat. Maksud ketidaksetaraan ini yaitu klausa-kalusa yang ada dalam kalimat ini menduduki posisi yang berbeda yaitu ada yang bertindak sebagai klausa atasan dan ada yang sebagai klausa bawahan. Penghubung atau konjungsi nyang digunakan dalam hubungan kalimat majemuk jenis ini yaitu kalau, ketika, meskipun, dan karena. Seperti dalam jenis koordinatif, dalam jenis ini pun terkadang konjungsi tidak selalu digunakan.
Contoh : Kalau ayah pergi, ibu juga akan pergi.
Nenek membaca majalah ketika kakek pergi ke pasar.
Karena banyak yang tidak berangkat, kuliah diliburkan.
Meskipun ada larangan merokok, kakek tetap merokok.

Pembentukan kalimat majemuk subordinatif memiliki dua sudut yang bertentangan. Pertama dipandang sebagai hasil proses menggabungkan dua buah klausa atau lebih, di mana klausa yang satu dianggap sebagai klausa atasan atau klausa utama (kadang disebut induk kalimat), sedangkan yang lain disebut klausa bawahan (anak kalimat).
Contoh : Nenek membaca majalah ketika kakek pergi ke pasar.
Dari kalimat tersebut, klausa “ Nenek membaca majalah ” berstatus sebagai klausa atasan, sedangkan klausa “ Kakek pergi ke pasar “ berkedudukan sebagai klausa bawahan.
Pandangan kedua, konstruksi kalimat subordinatif dianggap sebagai hasil proses perluasan terhadap salah satu unsur klausanya.
Contoh : Nenek membaca majalah tadi siang.
Kalimat tunggal tersebut kemudian diubah menjadi kalimat majemuk
Nenek membaca majalah ketika kakek pergi ke pasar.

Dari contoh tersebut terlihat frasa tadi siang yang merupakan bagian dari klausa “Nenek membaca majalah tadi siang” diluaskan (dideskripsikan) menjadi “ ketika kakek pergi ke pasar”. Dalam pandangan yang kedua ini dinyatakan bahwa setiap unsur kalimat dapat diperluas untuk dijadikan anak kalimat. Dari pandangan ini muncullah istilah anak kalimat pengganti subjek, anak kalimat pengganti predikat, anak kalimat pengganti objek, dan anak kalimat pengganti keterangan.

Kalimat majemuk bertingkat memperlihatkan berbagai jenis hubungan semantis antara klausa yang membentuknya. Untuk memperlihatkan hubungan antar klausa yang terdapat dalam kalimat maemuk bertingkat dibutuhkan kata penghubung atau konjungsi.

Berikut ini beberapa konjungsi dalam kalimat majemuk bertingkat besrta hubungan antarklausa yang diciptakan.
1. Hubungan 'waktu'
Kata penghubung yang digunakan adalah sejak, semenjak, sedari, ketika, sebelum, sesudah, hingga, sementara, seraya, tatkala, selama, selagi, serta, sambil, seusai, sesudah, setelah, sehabis, sampai, hingga.
• Sejak anak-anak, saya sudah terbiasa hidup sederhana.
2. Hubungan 'syarat'
Kata penghubung yang digunakan adalah seandainya, andaikata, bilamana, jika.
• Jika Anda mau mendengarkannya, saya akan bercerita.
• Pembangunan balai desa ini akan berjalan lancar andaikata seluruh warga mau berpartisipasi.
3. Hubungan 'tujuan'
Kata penghubung yang digunakan adalah agar, agar supaya, supaya, dan biar.
• Saya mengerjakan tugas itu sampai malam agar besok pagi dapat mengumpulkannya.
4. Hubungan 'konsesif'
Kata penghubung yang digunakan adalah walaupun, meskipun, kendatipun, sungguhpun.
• Walaupun hatinya sedih, ibu itu tidak mau menangis di hadapan anakanaknya.
5. Hubungan 'perbandingan'
Kata penghubung yang digunakan adalah seperti, ibarat, bagaikan, laksana, alih-alih.
• Bu Tati menyayangi kemenakannya seperti beliau menyayangi anakanaknya.
6. Hubungan 'penyebaban'
Kata penghubung yang digunakan adalah sebab, karena.
• Rencana penyelenggaraan pentas seni di sekolah saya ditunda karena para pengisi acara belum siap.
7. Hubungan 'akibat'
Kata penghubung yang digunakan adalah sehingga, sampai, maka.
• Pada saat ini harga buku memang sangat mahal sehingga kami tidak sanggup membelinya.
8. Hubungan 'cara'
Kata penghubung yang digunakan adalah dengan.
• Ia merangkai bunga-bunga itu dengan penuh konsentrasi.
9. Hubungan 'sangkalan'
Kata penghubung yang digunakan adalah seolah-olah, seakan-akan.
• Anak itu diam saja seolah-olah dia tidak melakukannya.
10. Hubungan 'kenyataan'
Kata penghubung yang digunakan adalah padahal, sedangkan.
• Dia pura-pura tidak tahu, padahal dia tahu banyak hal.
11. Hubungan 'hasil'
Kata penghubung yang digunakan adalah makanya.
• Wajah Tono cemberut, makanya saya takut untuk mendekatinya.
12. Hubungan 'penjelasan'
Kata penghubung yang digunakan adalah bahwa.
• Ia tidak tahu bahwa ayahnya seorang karyawan teladan.

C. Kalimat Majemuk Kompleks (kalimat majemuk campuran)
Kalimat majemuk kompleks adalah kalimat majemuk yang terdiri atas tiga klausa atau lebih, di mana ada klausa yang dihubungkan secara koordinatif dan ada pula yang dihubungkan secara subordinatif. Dengan kata lain kalimat ini merupakan percampuran antara kalimat majemuk koordinatif dengan kalimat majemuk subordinatif atau biasa juga disebut dengan istilah kalimat majemuk campuran.
Contoh :
• Nenek membaca majalah ketika kakek pergi ke pasar dan tidak ada pekerjaan lain yang harus diselesaikan.
• Karena ayah sedang kesulitan, kakek mengambil uang di tabungan dan memberikannya kepada ayah.

Demikian sedikit pembahasan dan contoh tentang KALIMAT TUNGGAL DAN KALIMAT MAJEMUK, semoga memberi pencerahan bagi kita semua. Baca juga: Sepeda Motor Injeksi Irit Harga Terbaik Cuma Honda dan Ultrabook Notebook Tipis Harga Murah Terbaik. 





Ditulis Oleh : Saefu Zaman Hari: 15.07 Kategori:

3 comments:

Anonim mengatakan...

berarti yang bedain kalimat ma klausa cm tanda titik, seru, ma tanya kak?

Saefu Zaman mengatakan...

Iya, sebuah klausa jika diberi tanda baca final (titik, seru, dan tanya) akan menjadi kalimat, tapi jangan lupa sebuah kalimat bisa terdiri atas dua atau lebih klausa.

mutiara azani mengatakan...

terimakasih atas bantuannya