DEFINISI, JENIS, DAN UNSUR-UNSUR INTRINSIK NOVEL


Novel merupakan karya sastra berbentuk prosa seperti layaknya cerpen. Seperti halnya cerpen, novel umumnya  juga menceritakan segala kajadian / permasalah yang terjadi dalam kehidupan manusia. Yang membedakan antara novel dengan cerpen adalah ruang lingkup permasalahan yang disampaikan. Novel memiliki ruang lingkup yang lebih luas, tidak hanya terpusat pada satu kejadian / permasalahan saja. Bahkan novel diperbolehkan mengungkapkan seluruh episode perjalanan hidup tokoh ceritanya. 

Masalah-masalah yang sudah tidak memiliki kaitan cukup kuat dengan tokoh atau cerita pun dapat dimasukkan dalam novel. Maksud dari masalah yang tidak terlalu kuat kaitannya dengan tokoh atau pokok permasalahan yaitu masalah atau kejadian yang apabila masalah / kejadian tersebut tidak dimasukkan dalam cerita hal tersebut tidak akan berpengaruh/mengganggu pada kepaduan cerita. Masalah sampingan ini biasa disebut dengan degresi.
Dengan pemahaman tersebut di atas dapat disimpulkan bahwa novel merupakan karya sastra bentuk prosa yang menceritakan episode kehidupan manusia/tokoh yang memberikan keleluasaan terhadap munculnya degresi atau tidak harus selalu terpusat pada pokok cerita. Dengan adanya degresi-degresi ini novel umumnya dibagi atas fragmen-fragmen.

Dari pengertian tersebut dapat kita ketahui bahwa sebuah novel tidak memiliki acuan khusus dalam hal kuantitas tulisan. Novel memang umumnya memiliki cerita yang panjang namun tidak menutup kemungkinan adanya sebuah novel yang pendek.


JENIS-JENIS NOVEL
Novel sendiri berdasarkan isi, tujuan, dan maksud pengarang dapat dibedakan menjadi beberapa jenis, yaitu:

1. Novel Bertendens
Novel jenis ini sering juga disebut novel bertujuan. Dikatakan demikian karena dalam jenis novel ini tujuan yang dimaksudkan pengarang sangat terasa, misalnya untuk mendidik, mengkritik kesalahan-kesalahan yang sering terjai, dll.
Contoh : novel salah asuhan karangan abdul muis

2. Novel Sejarah
Novel jenis ini memiliki kaitan dengan peristiwa-peristiwa sejarah. Tokoh dan latar cerita diambil dari peristiwa-peristiwa sejarah. Namun novel tetaplah novel, walaupun tokoh dan latar yang terdapat dalam novel jenis ini berkaitan dengan peristiwa-peristiwa sejarah namun novel ini tidak dapat disamakan dengan catatan / dokumentasi sejarah. Hal itu karena karya sastra dibuat atas imajinasi pengarang yang tentunya tercampur dengan sikap dan pendangan hidup pengarang itu.
Contoh : novel Untung Surapati karya Abdul Muis

3. Novel Adat
Novel adat merupakan novel yang isinya menyangkut persoalan adat. Tokoh-tokoh dalam novel jenis ini seakan-akan hanya merupakan media untuk pengarang mempermasalahkan adat yang menjadi perhatian pengarang. Novel yang termasuk dalam jenis ini misalnya novel Sitti Nurbaya karangan Marah Rusli.

4. Novel Anak-Anak
Merupakan jenis novel yang menceritakan kehidupan anak-anak. Karena sasaranya anak-anak novel jenis ini dalam penggarapannya menyesuaikan daya pikir anak-anak pula, yaitu dengan bahasa yang sederhana. Contoh novel jenis ini misalnya novel Si Dul Anak Betawi karangan Aman Dt. Majoindo. Tokoh dalam novel jenis ini tidak harus anak-anak.

5. Novel Politik
Adalah novel yang berlatar belakang masalah-masalah politik. Novel ini biasanya digunakan sebagai sarana pengarang untuk memperjuangkan gagasan-gagasan politiknya ataupun sebagai sarana pembakar semangat berjuang masyarakat dalam mencapai cita-cita politiknya.

6. Novel Psikologis
Dalam novel ini perhatian pengarang tertumpah pada perkembangan jiwa para tokohnya.  Sifat dan watak manusia pada umumnya, pergolakan-pergolakan pikiran, perbuatan manusia dan watak dasarnya merupakan hal yang paling banyak ditonjolkan pengarang.
Contoh : novel Belenggu karya Armyn Pane

7. Novel Percintaan
Novel dikatakan termasuk dalam jenis ini apabila isi novel tersebut lebih banyak membicarakan masalah hubungan antara laki-laki dan perempuan. Biasanya novel jenis ini hanya sebatas bacaan hiburan  saja dan penggarapan masalahnya tidak terlalu mendalam. Novel-novel pop yang sekarang ini banyak berkembang biasanya masuk dalam jenis ini.
Contoh: novel Karmila karya Marga T.

unsur- unsur intrinsik ialah unsur- unsur yang membangun karya sastra dari dalam karya sastra itu sendiri. Maksud dari dalam yaitu unsur tersebut masuk di dalam karya sastra itu sendiri. Secara umum unsur intrinsik karya sastra termasuk novel mencakup tema, alur, penokohan, latar, tegangan dan padahan, suasana, pusat pengisahan, dan gaya bahasa.

1. Tema 
Tema merupakan dasar cerita yaitu pokok permasalahan yang mendominasi suatu karya sastra (suharianto). Tema merupakan titik tolak pengarang dalam menyusun karya sastranya. Tema ini merupakan hal yang ingin disampaikan dan dipecahkan oleh pengarangnya melalui ceritanya. Tema menjadi dasar pengembangan seluruh cerita, maka tema pun bersifat menjiwai seluruh bagian cerita itu dari awal sampai akhir.

2. Alur Cerita
alur atau plot dapat didefinisikan sebagai cara pengarang menjalin kejadian-kejadian secara beruntun dengan memperhatikan hukum sebab akibat sehingga merupakan kesatuan yang padu, bulat, dan utuh (Suharianto). 
Alur dalam cerita terdiri atas lima bagian, yaitu: pemaparan/ pendahuluan, penggawatan, penanjakkan, puncak atau klimaks, dan peleraian.

3. Penokohan
Cerita sastra merupakan cerita yang mengisahkan kehidupan manusia dengan segala serbaneka kehidupannya. Dengan  pemahaman tersebut tentulah diwajibkan adanya tokoh sebagai perwujudan dari manusia dan kehidupannya yang akan diceritakan. Tokoh dalam cerita ini akan melakukan tugasnya menjadi “sumber cerita”. Tokoh merupakan benda hidup (manusia) yang memiliki fisik dan memiliki watak. Penokohan 
Penokohan sering juga disebut perwatakan, yaitu pelukisan mengenai tokoh cerita. Pelukisan ini mencakup keadaan lahir dan batin tokoh. Keadaan lahir merupakan bentuk jazad tokoh dan siapa tokohnya, keadaan lahir mencakupi pandangan hidup tokoh, sikap tokoh, keyakinan, adat istiadat, dll.

4. Latar
Segala peristiwa yang terjadi dalam kehidupan manusia pasti tidak akan lepas dari ikatan ruang dan waktu. Begitu juga dalam cerpen ataupun novel yang mana itu merupakan penceritaan kehidupan manusia dan segala permasalahanya. Tempat kejadian dan waktu kejadian akan senantiasa menjalin setiap laku kehidupan tokoh dalam cerita. Dengan demikian dapat diartikan bahwa latar adalah tempat dan atau waktu terjadinya cerita.
Latar atau biasa juga disebut setting dalam karya sastra prosa (cerpen dan novel) tidak hanya berfungsi sebagai penunjuk tempat dan waktu cerita. Latar dalam karya sastra prosa ini juga dijadikan sebagai tempat pengambilan nilai-nilai yang ingin diungkapkan pengarang dengan ceritanya. Menurut Nurgiyantoro (2004:227—233) latar dapat dibedakan ke dalam tiga unsur pokok, yaitu latar tempat, latar waktu, latar sosial.

5. Tegangan dan Padahan
Suspens atau tegangan merupakan bagian cerita yang membuat pembaca terangsang untuk melanjutkan membaca cerita. Keingina tersebut muncul karena pengarang seolah-olah menjanjikan pembaca akan menemukan sesuatu yang pembaca harapkan. Sedangkan padahan atau foreshadowing merupakan bagian cerita yang memberikan gambaran tentang sesuatu yang akan terjadi. Jadi padahan dan tegangan adalah tidak dapat dipisahkan, dengan kata lain dengan adanya padahan maka tercipta tegangan.

6. Suasana
Seperti halnya waktu dan tempat pada sebuah cerita, suasana juga merupakan sebuah hal yang selalu mengiringi suatu kejadian. Suasana dapat diartikan sebagai segala peristiwa yang dialami yang dialami oleh tokoh pada suatu cerita. Misalnya suasana menyedihkan, menyenangkan dan lain sebagainya.

7. Pusat Pengisahan
Cerita merupakan gambaran yang menampilkan perikehidupan tokoh. Penempatan posisi pengarang terhadap tokoh untuk menampilkan cerita mengenai perikehidupan tokoh dalam cerita itulah yang dinamakan pusat pengisahan (point of view) atau kadang disebut juga sudut pandang.  Secara umum pusat pengisahan dikategorikan dalam 4 jenis, yaitu Pengarang sebagai pelaku utama cerita, pengarang ikut bermain tetapi bukan sebagai tokoh utama, pengarang serba hadir, dan pengarang peninjau.

8. Gaya Bahasa
Bahasa dalam karya sastra prosa (cerpen dan novel) memiliki fungsi ganda yaitu sebagai penyampai maksud pengarang dan sebagai penyampai perasaan. Pengarang dalam membuat karya sastra bukan hanya sebatas ingin memberitahu pembaca akan apa yang dialami tokoh, namun pengarang juga bermaksud mengajak pembaca merasakan apa saja yang dialami oleh tokoh dalam cerita. Karena keinginan inilah gaya bahasa yang digunakan dalam karya sastra sering berbeda dengan gaya bahasa pada kehidupan sehari-hari. Dengan kata lain gaya bahasa dapat diartikan sebagai cara (berbahasa) yang ditempuh penulis untuk menyampaikan pikiran atau maksud.

lebih rinci mengenai unsur intrinsik karya sastra (novel) lihat di sini...




Ditulis Oleh : Saefu Zaman Hari: 10.25 Kategori:

0 comments: