Membaca Puisi

Membaca puisi di depan pendengar atau audiens masuk dalam kategori membaca ekspresif. Maksud dari hal ini adalah selain memahami apa yang termuat dalam puisi yang dibaca, pembaca juga harus mengekspresikan apa yang termuat dalam puisi yang dibaca. Sebagai contoh, ketika seseorang membaca puisi yang bertemakan kesedihan, bencana, ataupun kesengsaraan maka pembaca puisi pun harus membaca dengan ekspresi sedih ataupun prihatin. Akan sangat lucu ketika membaca puisi kesedihan seseorang membacakannya dengan ekpresi riang gembira. Oleh karena itu, sebelum membaca puisi seseorang juga harus memahami apa isi puisi yang akan dibaca. Membaca puisi juga bukan hanya kegiatan melisankan puisi saja melainkan lebih pada upaya mengekspresikan perasaan dan jiwa yang ditangkap dari puisi yang dibaca.
Membaca puisi (poetry reading) pada hakikatnya merupakan suatu usaha menyampaikan puisi kepada pendengar atau hadirin dengan cara yang setepat-tepatnya (sesuai dengan tuntutan puisi itu sendiri) untuk membawakan seluruh nilai-nilai puisi tersebut sesuai dengan yang dimaksudkan penyairnya (Suharianto 1982: 46). Nilai yang dimaksudkan dapat berupa informasi/pesan dan cerita (sebagai kandungan dalam) dan perangkat alat kebahasaan (sebagai kandungan luar). Dalam membaca puisi yang terpenting adalah bagaimana agar nilai-nilai yang ada menjadi hidup dan dihidupkan sehingga tercapai tujuan-tujuan yang berada dalam kerangka komunikasi gagasan maupun komunikasi estetik  (Sunaryo 2005: 40).
Untuk dapat membaca puisi dengan baik, setidaknya ada beberapa komponen yang menunjang dalam pembacaan puisi. Adapun komponen-komponen yang menunjang dalam pembacaan puisi yaitu: penghayatan, vokal, dan penampilan.
1.      Penghayatan 
Penghayatan memiliki arti pemahaman terhadap isi kandungan puisi yang dibaca. Penghayatan atau pemahaman dalam membaca puisi tidak terbatas pada pemahaman kata atau baris dalam puisi. Pemahaman akan makna dan suasana puisi juga harus dimiliki dalam membaca puisi agar rasa puisi terasa pula oleh pendengar puisi. Doyin (2008: 74) mengatakan bahwa penghayatan dalam membaca puisi setidaknya tercermin dalam 4 hal yaitu: pemenggalan, intonasi, ekspresi, dan kelancaran.
Pemenggalan adalah pemotongan bagian-bagian puisi ketika akan dibaca. Untuk dapat memenggal puisi dengan baik seseorang harus memahami puisi yang hendak dipenggal tersebut. Pemenggalan yang baik akan membuat maksud atau makna puisi tercermin dari bagaimana puisi itu dibaca dengan penggalan-penggalannya.
Intonasi, intonasi merupakan tinggi rendahnya suara ketika membaca puisi. Intonasi merupakan gambaran rasa dari puisi yang sedang dibaca. Intonasi dalam pembacaan puisi meliputi tekanan nada, tekanan tempo, dan tekanan dinamik dan aksentuasi, aksentuasi menyangkut bagian mana dari puisi yang dibaca yang harus mendapat penekanan. Dengan intonasi yang tepat sebuah pembacaan puisi akan lebih mudah dirasakan oleh pendengarnya. Oleh karena itu dalam menentukan intonasi dalam pembacaan puisi tidak boleh dilakukan dengan sembarangan, perlu pemahaman dan penghayatan terhadap puisi yang akan dibaca.
Ekspresi, ekspresi merupakan cara komunikasi untuk mendukung apa yang kita sampaikan atau baca dengan visualisasi maksud yang akan kita sampaikan. Secara umum ekspresi terlihat dari segala gerak gerik tubuh, dan secara khusus biasanya lebih terlihat pada ekspresi wajah atau mimic wajah. Dalam menampilkan ekspresi bagian tubuh yang paling penting adalah mata.
Kelancaran, seperti dalam kegiatan membaca pada umumnya, kelancaran membaca juga sangat penting dalam membaca puisi. Bisa di bayangkan, ketika membaca teks biasa saja kelancaran akan sangat berpengaruh pada ketersampaian pesan atau isi teks apalagi ketika yang dibaca puisi yang memiliki bahasa pemadatan dan kiasan. Oleh karena itu pemahaman penghayatan akan puisi juga memiliki keterkaitan dengan kelancaran. Hal itu karena kelancaran di sini tidak terbatas pada pembacaan semata, tetapi menyangkut intonasi dan ekspresi pembacaan puisi juga.
2.      Vokal
Menurut Doyin (2008) ada empat hal yang diperhatikan dalam masalah vocal yaitu kejelasan ucapan, jeda, ketahanan, dan kelancaran.
Setiap kata yang ada dalam puisi harus dapat didengar oleh pendengar atau penonton secara jelas. Kejelasan ucapan ini terkait bagaimana mengucapkan kata-kata bukan warna atau jenis suara pembacanya. Jeda merupakan waktu penghentian ketika membaca puisi. Untuk dapat membaca puisi dengan baik kita harus dapat mengatur jeda secara tepat. Secara umum jeda digunakan untuk mengambil nafas, tetapi mengambil nafas di sini juga harus diatur sesuai isi yang dibaca agar tak terkesan tergesa atau terlalu lambat dan maksud yang dibaca sampai pada pendengar.
Ketahanan vocal dalam pembacaan puisi juga harus terjaga, jangan sampai ketika awal pembacaan kita terlalu bersemangat tetapi ketika akhir malah kita kehilangan vocal. Untuk mendapatkan ketahanan vocal, pembaca harus sering-sering berlatih membaca puisi dan menjaga control suara ketika membaca. Hal yang mempengaruhi vocal pembacaan puisi berikutnya yaitu kelancaran, seperti yang telah dijelaskan di atas kelancaran akan sangat berpengaruh pada ketersampaian isi yang kit abaca. Untuk mendapatkan kelancaran kita harus banyak berlatih.
3.      Penampilan
Penampilan dalam membaca puisi meliputi teknik muncul, blocking dan pemanfaatan setting, gerakan tubuh, dan cara berpakaian.
 Teknik muncul adalah cara yang ditempuh oleh pembaca puisi dalam memperlihatkan diri untuk pertama kalinya. Kesan baik dan mantap harus ditampilkan dalam pemunculan pertama. Hal ini penting karena keberhasilan dalam kebermunculan pertama akan berpengaruh besar pada keberhasilan pembaca selanjutnya.
Blocking merupakan pemosisian tubuh saat membaca puisi. Dalam membaca puisi kita harus dapat mengatur posisi kita di atas panggung. Misalnya apakah kita akan menghadap penonton, atau membelakangi penonton. Blocking juga akan berkaitan dengan setting panggung, ketika kita akan mencoba membaca puisi dengan memanfaatkan berbagai property yang ada di atas panggung kita harus dapat mengatur posisi kita agar nyaman dan enak dilihat.
Gerakkan tubuh juga sangat mempengaruhi keberhasilan penampilan kita ketika membaca puisi. Buatlah gerakkan yang memang diperlukan dan mendukung apa yang sedang kita sampaikan dalam hal ini puisi yang kita baca. Terlalu banyak bergerak terkadang juga dapat mempengaruhi ketersampaian isi dan juga control kita dalam membaca puisi.
Dari semua hal-hal dalam penampilan membaca puisi, cara berpakaian juga merupakan factor pendukung sukses tidaknya penampilan kita. Berpakaianlah yang rapi, mendukung puisi, dan tidak mengganggu penampilan kita.
Sebelum membaca puisi ada beberapa langkah-langkah membaca puisi yang perlu ditempuh agar dalam membaca puisi lebih maksimal. kepercayaan diri dan kemampuan berkomunikasi dengan baik adalah hal yang juga sangat menentukan keberhasilan membaca puisi di depan orang atau audien.





Ditulis Oleh : Saefu Zaman Hari: 12.52 Kategori:

0 comments: