Masalah dalam Bahasa Indonesia


Sebagai bahasa nasional, Bahasa Indonesia terus mengalami dinamika perubahan dan penyempurnaan, namun begitu pada beberapa hal masih dijumpai sedikit kejanggalan dan kerancuan, berikut saya cuplikkan sedikit contoh kasusnya:


Tentang Kata ’Gulai’

KUBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia) 2008 menjelaskan bahwa lema ’gulai’ termasuk kelas kata benda yang definisi formalnya ’sayur berkuah santan dan diberi kunyit serta bumbu khusus (biasanya dicampur dengan ikan, daging kambing, daging sapi, dsb.’ Jika kata benda ini dijadikan kata kerja maka ’menggulai’ dapat digunakan, yang artinya ’memasak gulai’ atau ’membuat gulai’. Dua contoh penggunaan kata ’gulai’ sebagai kata benda diberikan dalam KUBI 2008 ini. Yang pertama ’gulai bagar’ yang artinya ’gulai daging tidak bersantan’; dan yang kedua ’gulai keling’ yang artinya ’gulai kambing yang banyak ketumbarnya’. Tentu saja masa ada sejumlah contoh penggunaan kata ’gulai’ sebagai kata benda yang tidak dimasukkan ke dalam KUBI.

Sebagai contoh penggunaan kata ’menggulai’ dalam peribahasa KUBI 2008 diberikan peribaha berikut ’kalau pandai menggulai badar pun menjadi tenggiri’ yang artinya kurang lebih ’orang yang pandai, meskipun kurang alat syaratnya, dapat juga mengerjakan sesuatu dengan baik’.


Sampai di sini sebenarnya tidak ada masalah karena kata ’gulai’ telah lengkap diberikan definisi, kelas kata, dan contohnya. Karena dalam KUBI 2008 tidak ada phonemic transcription-nya, seperti yang biasa dan lazim digunakan dalam kamus bahasa Inggris umpamanya, maka setiap orang Indonesia, termasuk saya, akan membaca kata ini seperti kalau saya membacai ’ai’ pada ’hai’. Atau dengan kata lain kata ’gulai’ akan dibaca ’gulai’.

Tetapi keputusan membaca kata ’gulai’ sebagai ’gulai’ menjadi dipertanyakan ketka buku berjudul Kompeten Berbahasa Indonesia untuk SMA Kelas XI terbitan Penerbit Erlangga (2007: 4) dijadikan rujukan. Buku yang ditulis oleh Tim Edukatif terdiri dari Drs. Mafrukhi, M.Pd., Wahono, M.Pd., Drs. S. Prasetyo Utomo, Rusmiyanto, S.Pd., Imam Taufik, S.Pd, dan Drs. Bambang Hortono, M.Hum. ini tegas-tegas menyatakan bahwa lafal ’gulai’ hanya boleh dipakai dalam kata kerja ’menggulai’ seperti pada ’menggulai kopi’.

Pada kata ’gulai’ sebagai kata benda, contohnya pada ’gulai kambing’, lafal ’gulai’ tidak boleh dipakai. Yang boleh dipakai hanya lafal ’gule’. Pelafalan ’gulai’ dan ’gule’ tentu saja berbeda. Meskipun perbedaan ini sepertinya tidak mempengaruhi makna, tetapi jika memang berbeda ya harus dikatakan secara berbeda, dipelajari secara berbeda, dan juga digunakan secara berbeda pula. Pertanyaannya sekarang, apakah yang disampaikan dalam buku Kompeten Berbahasa Indonesia untuk SMA Kelas XI terbitan Penerbit Erlangga (2007: 4) ini benar adanya, sehingga mulai sekarang setiap orang harus sadar bahwa kata ’gulai’ adakalanya harus dilafalkan ’gulai’ dan adakalanya ’gule’? Hanya boleh dilafalkan ’gulai’ jika digunakan sebagai kata kerja, tetapi harus dilafalkan sebagai ’gule’ jika digunakan sebagai kata benda?


Bagaimana Memastikan yang Boleh dan yang Tidak Boleh

Persoalan yang tampaknya sederhana ini menjadi tidak sederhana ketika ketepatan dan presisi akademis yang dijadikan acuan. Meskipun bahasa – kosa katanya – seringkali dikatakan sebagai sesuatu yang ’dinamis’, sesuatu yang dapat berubah karena sejumlah faktor eksternal, tetapi tetap saja harus ada acuan yang pasti, ilmiah, dan akademis, sehingga para pembelajar mengetahui dengan pasti apa yang boleh dan tidak boleh.

KUBI 2008 tidak menyertakan cara membaca yang benar untuk setiap lema dan juga sejumlah variannya jika memang ada varian cara membaca untuk masing-masing lema. Apakah ini dapat dikatakan sebuah kelemahan? Mungkin saja jika permasalahan varian cara membaca kata ’gulai’ yang dijadikan titik pangkal perbincangan, karena pengguna menjadi tidak mempunyai pegangan mana yang boleh dan mana yang tidak, mana yang salah mana yang benar!


Semoga sedikit artikel tentang Contoh Kasus dan Masalah dalam Bahasa Indonesia ini dapat menjadi bahan pemikiran kita.


***

Diolah dari tulisan Dr. Tri Budhi Sastrio
Universitas Pelita Harapan - Surabaya
tribudhis[at]yahoo.com

***






Ditulis Oleh : Saefu Zaman Hari: 01.44 Kategori:

0 comments: